Posts Tagged ‘akuntansi ukm’

Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP). SAK ETAP ini berlaku secara efektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan.

Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.

Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud  adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan  menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika: entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.

Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP, maka auditor yang akan melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu kepada SAK-ETAP.

Proses Akuntansi

Posted: May 20, 2010 in Accounting
Tags: ,

Proses akuntansi adalah serangkaian kegiatan yang diawali dengan transaksi dan berakhir dengan penutupan buku – berakhirnya seluruh proses pencatatan pada periode tertentu. Karena proses ini diulang setiap periode pelaporan, ini disebut sebagai siklus akuntansi dan mencakup langkah-langkah utama, yaitu:

  • Mengidentifikasi transaksi atau peristiwa lain dikenali
  • Menyiapkan dokumen sumber transaksi itu seperti nota pembelian, faktur dll
  • Menganalisis dan mengklasifikasikan transaksi. Langkah ini melibatkan kuantifikasi transaksi dalam bentuk uang, mengidentifikasi account yang terkena dampak dan apakah akun tersebut harus didebet atau dikreditkan.
  • Mencatat transaksi dengan membuat entri di jurnal yang sesuai, seperti jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas atau pengeluaran, atau jurnal umum dan entri tersebut dibuat dalam urutan kronologis.
  • Post entri jurnal umum ke buku besar. Langkah ini dilakukan selama periode akuntansi sebagai transaksi terjadi atau dalam proses batch periodik.
  • Menyiapkan neraca percobaan untuk memastikan bahwa debet kredit sama. Saldo percobaan adalah daftar dari semua buku besar, dengan debet di kolom kiri dan kredit di kolom kanan. Pada titik ini belum ada entri menyesuaikan. Jumlah aktual dari setiap kolom tidak bermakna, yang penting adalah bahwa nilai sama. Perhatikan pada saat out-of-balance kolom menunjukkan kesalahan rekaman, kolom seimbang tidak menjamin bahwa tidak ada kesalahan. Misalnya, ada transaksi yang lupa dijurnal atau rekaman dalam account yang salah tidak akan menyebabkan ketidakseimbangan.
  • Memperbaiki perbedaan dalam neraca percobaan. Jika kolom tidak seimbang, mencari kesalahan matematika, kesalahan posting, dan kesalahan perekaman. Kesalahan posting meliputi: posting dari jumlah yang salah, mengabaikan posting, posting di kolom yang salah, atau posting lebih dari sekali.
  • Siapkan jurnal penyesuaian untuk merekam / mencatat transaksi yang masih harus dibayar, ditangguhkan, dan jumlah yang diperkirakan.
  • Posting jurnal penyesuaian ke buku besar.
  • Siapkan neraca saldo disesuaikan. Langkah ini mirip dengan penyusunan neraca percobaan, tapi jurnal penyesuaian sudah ada. Memperbaiki kesalahan yang mungkin ditemukan.
  • Siapkan laporan keuangan, yang terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas
  • Siapkan jurnal penutupan yang menutup rekening sementara seperti pendapatan, biaya, keuntungan, dan kerugian.
  • Posting jurnal penutup ke buku besar.
  • Siapkan neraca percobaan setelah penutupan untuk memastikan bahwa debet kredit sama. Pada proses ini, hanya account tetap muncul karena yang sementara telah ditutup.

Sumber: netmba.com & basiccollegeaccounting.com

Kasusnya adalah sebagai berikut:

Katakanlah saya sebelumnya saya sudah mempunyai 200 ekor domba (jantan 150, betina 50), misalnya untuk jantan rata2 beratnya 24 kg dan betina 20 kg dengan harga perolehan masing2 jantan 500ribu dan betina 450ribu.

  • 02-Mar Terjual 20 ekor jantan untuk aqiqah dengan harga @ 1juta tunai.
  • 05-Mar Dibeli 25 ekor jantan @ 525ribu dengan berat rata2 20 kg tunai
  • 10-Mar Terjual 15 ekor jantan untuk aqiqah @ 1juta ribu tunai 15-Mar Dibeli lagi 10 ekor jantan @ 450ribu dengan berat rata2 20kg tunai (lagi dapat harga murah)
  • 16-Mar Lahir domba jantan 2 ekor
  • 17-Mar mati domba jantan dari stok awal 2 ekor
  • 18-Mar mati domba janta dari pembelian tanggal 5 maret 1 ekor
  • 31-Mar total biaya pemeliharaan termasuk gaji, ampas tahu, bensin buat cari rumput dan lain-lain 6 juta.

Bagaimana jurnal & menghitung laba ruginya? Jawabannya ada di file excel ini. Jika ada kekurangan atau kesalahan, mohon koreksinya… 🙂

Trm kasih utk misterry – member kaskus

Apakah jurnal entri itu?

  • Jurnal entri merupakan catatan untuk transaksi akuntansi berdasarkan urutan kronologis, yaitu pada saat transaksi itu terjadi
  • Buku Besar merupakan catatan transaksi akuntansi per akun
  • Akun adalah satuan untuk mencatat dan meringkas transaksi akuntansi

Semua transaksi akuntansi dicatat melalui jurnal entri yang menunjukkan nama akun, jumlah, dan apakah akun tersebut dicatat di sisi debit atau kredit rekening.

Sisi debit dan sisi kredit inilah yang disebut pencatatan ganda atau “double entry” yang artinya:

  • Untuk merekam transaksi, sistem akuntansi menggunakan akuntansi dengan pencatatan rangkap.
  • Double-entry menyiratkan bahwa transaksi selalu dicatat menggunakan dua sisi, debet dan kredit.
  • Debit mengacu pada sisi kiri dan kredit mengacu pada sisi kanan dari entri jurnal atau akun.
  • Jumlah dari jumlah sisi debet harus sama dengan jumlah jumlah sisi kredit.
  • Sebuah jurnal disebut “seimbang” ketika jumlah jumlah sisi debit sama dengan jumlah jumlah sisi kredit.

Analisis pada Suatu Transaksi

Contoh : Pedagang A menjual produk XYZ sebesar Rp. 100.000 secara tunai

  1. Apakah yg diterima Pedagang A ? Uang / Kas
  2. Jika menerima Kas apa yg terjadi pada saldo Kas? Saldo Kas bertambah
  3. Disisi manakah jika akun Kas bertambah? sisi kiri DEBIT
  4. Apakah nama akun untuk mencatat penjualan?  Penjualan
  5. Disisi manakah jika akun Penjualan bertambah? sisi kanan KREDIT

Jadi jurnal entri adalah sebagai berikut:

.                                                Debit                        Kredit

Kas                                    Rp. 100.000                     –

Penjualan                                     –                    Rp. 100.000

DO’S

  1. Belajar akuntansi dasar sebelum Anda masuk ke bisnis, jika dirasa perlu ikut kursus
  2. Konsultasi dan menjalin hubungan baik dengan akuntan sebelum Anda mulai berbisnis
  3. Menentukan program perangkat lunak akuntansi yang terbaik bagi bisnis Anda
  4. Pada awalnya, melakukan pembukuan Anda sendiri untuk meningkatkan pengetahuan tentang akuntansi
  5. Mengatur kebijakan persediaan dan pengendalian internal termasuk perlindungan terhadap ketidakjujuran
  6. Merekonsiliasi rekening bank Anda setidaknya sekali dalam sebulan ketika laporan bank Anda diterima
  7. Memelihara dan memperbaharui pengendalian arus kas Anda setiap bulan.
  8. Jika perlu  outsourcing penggajian dan pelaporan gaji untuk gaji karyawan
  9. Siapkan laporan keuangan per bulan
  10. Catatan bisnis terpisah dari catatan pribadi Anda.

Don’ts

  1. Mendelegasikan wewenang untuk menandatangani cek kepada orang lain
  2. Menggunakan uang yang dipungut untuk pajak upah atau pajak penjualan untuk tujuan lain
  3. Aset pribadi bercampur dengan aset bisnis
  4. Memberi wewenang kepada orang lain untuk proyeksi arus kas
  5. Optimis dalam proyeksi penjualan atau konservatif dalam proyeksi pengeluaran
  6. Tidak ada dokumentasi hitam diatas putih pada setiap hal penting termasuk pembelian
  7. Membayar faktur itu tanpa memeriksa order pembelian Anda
  8. Memberi wewenang kepada orang lain untuk hubungan dengan sumber-sumber pinjaman Anda
  9. Menunda untuk membangun hubungan dengan sumber kredit (bank, dll) sampai Anda memiliki kebutuhan untuk pembiayaan
  10. Mengabaikan nasihat dari akuntan dan pengacara pada masalah keuangan dan legal

terjemahan bebas dari: http://www.myownbusiness.org

Tulisan dari Seta Pausa cukup menarik untuk direnungkan oleh para pengusaha UKM sebagai pertimbangan untuk lebih maju lagi.

1.    Meremehkan laporan keuangan
Padahal laporan keuangan yang sistematis amat membantu kita untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Lebih jauh pada saatnya nanti, seperti dikatakan oleh Ali Said, Ketua Hipmi, salah satu permasalahan UKM adalah ketiadaan laporan keuangan padahal ini dibutuhkan untuk syarat dalam peminjaman bank.
Dosa ini menyebabkan kita tidak menjadi bankable.

2.    Pelit dalam memberdayakan SDM-nya
Kita masih melihat banyak owner sebuah UKM tidak mau meluangkan waktunya untuk lebih memperhatikan serta melatih skill karyawannya. Lebih parah lagi jika hanya diberlakukan sistem gaji tanpa bonus.
Fasilitas pun menjadi hal yang penting untuk karyawan kita. Tanyakan apa yang dapat membuat mereka jenuh. Berdialoglah dengan karyawan kita. Karyawan juga berhak tahu seandainya kondisi kita sehingga terjadi saling pengertian dalam hal pemenuhan fasilitas.
Yang perlu diperhatikan adalah uang bukanlah sebagai pemicu utama pemberdayaan SDM.

3.    Tidak mau beralih ke computerize
Pengalaman saya, dengan computerize ini saya dapat mempunyai waktu luang yang lebih banyak. Computerize juga meminimalkan jumlah human error.
Jika kita belum computerize, kita harus segera beralih. Dalih budget udah basi.

4.    Hanya mengandalkan sedikit sumber
Dalam hal selling, saya sangat menghindari ketergantungan pada satu sumber, supplier maupun buyer. Untuk awalan, memang ada kalanya seperti itu.
Bargaining power kita akan lemah jika kita hanya mempunyai sedikit sumber. Padahal bargaining power adalah hal yang paling penting dalam tawar menawar.

5.    Tidak berani improvisasi dalam marketing
Berani tanpa perhitungan itu bodoh. Namun jika perhitungan sudah tepat masih tidak berani, itu namanya pengecut.
Marketing tidak harus mengeluarkan budget banyak. Hanya saja sering bagi pelaku UKM untuk memeras otak lebih keras. Bisnis tanpa marketing is bullshit.

6.    Yang penting murah
Betul harga memang penting. Tapi nilai tambah lebih penting saat ini. Temukan niche/celah market kita. Harga menyusul kemudian.

7.    Pelit terhadap konsumen
Yang gaji karyawan itu konsumen. Yang ngasih kita duit juga konsumen. Jadi kita mesti berikan something special untuk konsumen yang loyal pada kita.
Suatu hal yang sangat salah jika kita tidak memberikan gift kepada konsumen loyal.

8.    Gini aja cukup
Dalam bersyukur, kita memang mesti lihat ke bawah. Tapi dalam hal kompetisi bisnis, kita lihat ke atas.
Jika kita melihat ke bawah, kita akan berkata ‘oh, gini aja cukup kok. Toh saya sudah lebih baik dibanding pesaing di seberang sana’. Hal ini akan mematikan kreativitas.
Gak ada yang cukup dalam kompetisi bisnis. Inovasi, inovasi, inovasi…

9.    Sering menyalahkan minimnya anggaran
Ya iyalah…lha wong menyalahkan nasib. Minimnya anggaran sering menjadi kambing hitam. Ini sudah menjadi alasan klise.
Pertanyaannya adalah dengan biaya anggaran segini, dapat menghasilkan seberapa? Kalo minim ya dinaikkin. Gitu aja kok repot…
Kalau sudah mentok, carilah suntikan dana dari bank atau investor. Hal ini akan menyebabkan profit kita menipis pada awalnya. Di saat terdesak ketika kondisi bisnis kita payah, kita harus membuat keputusan untuk menutup bisnis kita atau meneruskan dengan kerja yang lebih keras lagi. Sejujurnya, hanya ada dua pilihan itu. Minim anggaran adalah alarm untuk memutuskan pilihan mana yang akan diambil dari kedua pilihan itu.
Namun harus diingat, alasan sebenernya adalah minim anggaran atau kita yang kurang keras memeras otak?

10.    Tidak ada legalitas usaha
Lagi pusing2nya mikirin profit yang turun, tiba-tiba pikiran dikacaukan lagi dengan adanya inspeksi mendadak dari instasi pemerintah atau dari polisi cari rejeki. Begitu tidak ada legalitas usaha, panjang deh tuh masalah.
Ujung2nya bisa bikin stress. Kalo kita sudah punya legalitas usaha, hidup jadi lebih tenang. Ini sama aja dengan membawa STNK kendaraan pada saat pergi ke luar kota. Menghadirkan ketenangan.
Apalagi legalitas usaha juga merupakan syarat untuk meminjam duit di bank. Satu lagi, kalo kita ngaku pebisnis tapi gak bawa kartu NPWP kan gak keren juga.
Legalitas usaha membuat pergerakan bisnis kita lebih leluasa.

sumber: http://www.logika-hati.com

Ringkasan Pembukuan UKM

Posted: February 23, 2010 in Accounting
Tags: , ,

Slide dibawah ini menurut saya cukup informatif dan semoga bermanfaat