Posts Tagged ‘manajemen tradisional’

Tulisan dari Seta Pausa cukup menarik untuk direnungkan oleh para pengusaha UKM sebagai pertimbangan untuk lebih maju lagi.

1.    Meremehkan laporan keuangan
Padahal laporan keuangan yang sistematis amat membantu kita untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Lebih jauh pada saatnya nanti, seperti dikatakan oleh Ali Said, Ketua Hipmi, salah satu permasalahan UKM adalah ketiadaan laporan keuangan padahal ini dibutuhkan untuk syarat dalam peminjaman bank.
Dosa ini menyebabkan kita tidak menjadi bankable.

2.    Pelit dalam memberdayakan SDM-nya
Kita masih melihat banyak owner sebuah UKM tidak mau meluangkan waktunya untuk lebih memperhatikan serta melatih skill karyawannya. Lebih parah lagi jika hanya diberlakukan sistem gaji tanpa bonus.
Fasilitas pun menjadi hal yang penting untuk karyawan kita. Tanyakan apa yang dapat membuat mereka jenuh. Berdialoglah dengan karyawan kita. Karyawan juga berhak tahu seandainya kondisi kita sehingga terjadi saling pengertian dalam hal pemenuhan fasilitas.
Yang perlu diperhatikan adalah uang bukanlah sebagai pemicu utama pemberdayaan SDM.

3.    Tidak mau beralih ke computerize
Pengalaman saya, dengan computerize ini saya dapat mempunyai waktu luang yang lebih banyak. Computerize juga meminimalkan jumlah human error.
Jika kita belum computerize, kita harus segera beralih. Dalih budget udah basi.

4.    Hanya mengandalkan sedikit sumber
Dalam hal selling, saya sangat menghindari ketergantungan pada satu sumber, supplier maupun buyer. Untuk awalan, memang ada kalanya seperti itu.
Bargaining power kita akan lemah jika kita hanya mempunyai sedikit sumber. Padahal bargaining power adalah hal yang paling penting dalam tawar menawar.

5.    Tidak berani improvisasi dalam marketing
Berani tanpa perhitungan itu bodoh. Namun jika perhitungan sudah tepat masih tidak berani, itu namanya pengecut.
Marketing tidak harus mengeluarkan budget banyak. Hanya saja sering bagi pelaku UKM untuk memeras otak lebih keras. Bisnis tanpa marketing is bullshit.

6.    Yang penting murah
Betul harga memang penting. Tapi nilai tambah lebih penting saat ini. Temukan niche/celah market kita. Harga menyusul kemudian.

7.    Pelit terhadap konsumen
Yang gaji karyawan itu konsumen. Yang ngasih kita duit juga konsumen. Jadi kita mesti berikan something special untuk konsumen yang loyal pada kita.
Suatu hal yang sangat salah jika kita tidak memberikan gift kepada konsumen loyal.

8.    Gini aja cukup
Dalam bersyukur, kita memang mesti lihat ke bawah. Tapi dalam hal kompetisi bisnis, kita lihat ke atas.
Jika kita melihat ke bawah, kita akan berkata ‘oh, gini aja cukup kok. Toh saya sudah lebih baik dibanding pesaing di seberang sana’. Hal ini akan mematikan kreativitas.
Gak ada yang cukup dalam kompetisi bisnis. Inovasi, inovasi, inovasi…

9.    Sering menyalahkan minimnya anggaran
Ya iyalah…lha wong menyalahkan nasib. Minimnya anggaran sering menjadi kambing hitam. Ini sudah menjadi alasan klise.
Pertanyaannya adalah dengan biaya anggaran segini, dapat menghasilkan seberapa? Kalo minim ya dinaikkin. Gitu aja kok repot…
Kalau sudah mentok, carilah suntikan dana dari bank atau investor. Hal ini akan menyebabkan profit kita menipis pada awalnya. Di saat terdesak ketika kondisi bisnis kita payah, kita harus membuat keputusan untuk menutup bisnis kita atau meneruskan dengan kerja yang lebih keras lagi. Sejujurnya, hanya ada dua pilihan itu. Minim anggaran adalah alarm untuk memutuskan pilihan mana yang akan diambil dari kedua pilihan itu.
Namun harus diingat, alasan sebenernya adalah minim anggaran atau kita yang kurang keras memeras otak?

10.    Tidak ada legalitas usaha
Lagi pusing2nya mikirin profit yang turun, tiba-tiba pikiran dikacaukan lagi dengan adanya inspeksi mendadak dari instasi pemerintah atau dari polisi cari rejeki. Begitu tidak ada legalitas usaha, panjang deh tuh masalah.
Ujung2nya bisa bikin stress. Kalo kita sudah punya legalitas usaha, hidup jadi lebih tenang. Ini sama aja dengan membawa STNK kendaraan pada saat pergi ke luar kota. Menghadirkan ketenangan.
Apalagi legalitas usaha juga merupakan syarat untuk meminjam duit di bank. Satu lagi, kalo kita ngaku pebisnis tapi gak bawa kartu NPWP kan gak keren juga.
Legalitas usaha membuat pergerakan bisnis kita lebih leluasa.

sumber: http://www.logika-hati.com

Usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia sering kali terasosiasikan dengan praktek “manajemen tradisional” oleh karena beberapa sebab seperti:

  • UKM yang tumbuh dan berkembang di Indonesia lebih banyak dikelola oleh perorangan (one man show) atau pun dikelola oleh satu keluarga yang berpegang teguh pada suatu tradisi pengelolaan usaha.
  • UKM yang tumbuh dan berkembang di Indonesia lebih banyak merupakan usaha yang sederhana dimana tidak dapat terlalu banyak bahan baku yang dibutuhkan, proses yang sederhana dan varian produksi yang tidak terlalu banyak.
  • Pola permintaan konsumen yang relatif tidak banyak berubah (oleh karena minimnya kompetensi).
  • Alat bantu proses dan produksi yang sederhana dan bukan tergolong berteknologi tinggi.

Di lain pihak, jenis permasalahan yang dihadapi UKM sangat beragam. Riset yang dilakukan oleh Shujiro Urata pada tahun 2000 menunjukkan bahwa salah satu masalah utama UKM di Indonesia adalah lemahnya manajemen usaha, termasuk manajemen keuangan dan akuntansi, selain juga kurangnya pengetahuan mengenai teknologi produksi, quality control, pemasaran, dan kurangnya kualitas sumber daya manusia.

Berbagai permasalahan tersebut muncul sebagai konsekuensi logis dari era globalisasi dimana dunia usaha telah dapat menembus batas-batas tradisional. UKM yang tumbuh secara tradisional kini bersaing dengan UKM mancanegara yang tumbuh di era persaingan bebas. UKM yang mampu mengatasi persaingan dan muncul lebih unggul adalah UKM yang mampu memenuhi keinginan konsumen secara cepat dan tepat dengan harga yang terjangkau, variasi produk dan layanan yang beragam. UKM unggulan tersebut adalah UKM yang mampu mengatasi kerumitan dan kompleksitas usaha yang semakin meningkat melalui praktek manajemen yang telah berkembang sesuai dengan perubahan kondisi usaha yang dapat dan terus berubah setiap saat.

Sebagai pembanding, survey yang dilakukan di Canada menyimpulkan bahwa manajemen (sisi internal UKM) merupakan faktor yang memberikan konstribusi tertinggi dalam proses pengembangan usaha dibandingkan peran pemerintah (sisi eksternal). Berangkat dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan salah satu unsur terpenting dalam penciptaan, pengembangan, dan pengelolaan UKM.

Lingkungan usaha berubah setiap saat menuntut UKM memiliki manajemen yang handal. Namun hal tersebut tidak dapat tercipta begitu saja tanpa melalui serangkaian proses yang terpimpin. Dalam memilih langkah yang sesuai demi memajukan UKM di Indonesia, terdapat beberapa pilihan antara lain:

  • Membiarkan UKM tumbuh secara mandiri tanpa dukungan katalis atau apapun, dengan risiko lamanya waktu yang dibutuhkan dan risiko hancurnya usaha oleh UKM yang lebih unggul dalam persaingan.
  • Membantu UKM untuk dapat mengatasi segala bentuk permasalahan, dengan risiko UKM menjadi tidak mandiri dan selalu mencari dukungan eksternal.

Untuk dapat menumbuhkan iklim pengembangan usaha yang kondusif dimana UKM dapat tumbuh dan berkembang dengan risiko yang dapat ditekan maka berikut ini ada beberapa strategi yang perlu dilakukan:

Strategi mentoring
Strategi ini merupakan upaya untuk menjalin dan membangun kerjasama dan kemitraan antara praktisi UKM yang sudah berpengalaman dan berwawasan luas dengan para praktisi pemula yang memiliki semangat berusaha dan membutuhkan pengarahan. Strategi ini dapat diterapkan salah satunya melalui kerjasama antara UKM pemula dengan UKM berpengalaman dalam sebuah kerjasama rantai pasokan. Dalam skenario tersebut diharapkan terjalinnya komunikasi dua arah antara keduabelah pihak yang dapat menjamin terciptanya rantai pasokan yang kuat berdasarkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan pengharapan masing-masing pihak.

Strategi inkubator bisnis.
Inkubator bisnis merupakan sebuah lingkungan dimana terjalin kerjasama antara manusia bersumber daya (seperti konsultan bisnis, ahli hukum, ahli keuangan) dan sumber daya lainnya (sarana perkantoran, pelatihan) yang dapat bermanfaat untuk memberdayakan usaha-usaha baru agar dapat tumbuh pada tahap awal dan bertahan melawan kompetisi.

Strategi klaster dan jejaring
Membangun hubungan di antara sekelompok UKM dalam rantai pasokan yang saling mendukung, melaksanakan efisiensi terhadap biaya operasional dan pengembangan, serta alih daya dan teknologi.

Strategi benchmarking
Strategi ini merupakan upaya dimana UKM dapat membandingkan tata cara, metode, proses hingga kinerja di antara sekelompok UKM maupun dengan kelompok UKM lain, dalam rangka membangun praktek terbaik (best practices)

sumber: http://www.pnm.co.id